BLOGGER TEMPLATES AND Gaia Layouts »
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

Jalan Panjang Sang Garuda Menuju Piala Dunia 2014

Undian putaran ketiga babak penyisihan Pra-Piala Dunia 2014 telah berlangsung kemarin di Rio de Janiero, Brazil. Seperti yang sudah diprediksikan oleh banyak pengamat sepak bola bahwa perjalanan timnas Indonesia di putaran ketiga ini akan lebih berat dari sebelumnya. Seperti yang telah ketahui bersama, Indonesia berhasil melaju ke putaran ketiga setelah mengalahkan Turkmenistan dengan agregat 5-4 dan pencapaian tersebut bisa terbilang cukup baik karena timnas Indonesia hanya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan pertandingan tersebut. Selain itu, timnas Indonesia baru saja merasakan masa transisi kepelatihan yang sebelumnya ditangani oleh Alfred Riedl yang kemudian digantikan oleh Wim Rijsbergen.

Jika kita menilik performa timnas racikan Wim Rijsbergen saat berjibaku melawan Turkmenistan, rasanya kita masih memiliki secercah harapan untuk melihat sepak bola Indonesia kembali disegani oleh negara-negara lain.Permainan umpan-umpan pendek yang diperlihatkan Firman Utina Dkk saat melawan Turkmenistan cukup menghibur rakyat Indonesia meskipun itu 'menurut saya' baru terlihat pada pertandingan leg kedua, tepatnya babak pertama. Mengapa saya berkata demikian? Hal ini saya dasari dari performa timnas saat melawan Turkmenistan.

Rabu, 13 Oktober 2010

Kejujuran Kunci Utama Luruskan Kinerja PSSI


“Gong” perubahan yang saat ini dikumandangkan beberapa stakeholder sepakbola nasional bagai bola api yang terus menggelinding mengiringi perjalanan PSSI, di bawah kendali ketua umum Nurdin Halid. 

Tak heran, jika pada setiap momen ada saja letupan amarah yang disampaikan dengan tuntutan agar orang nomor satu di organisasi sepakbola nasional itu mundur. Salah satunya terjadi saat timnas Indonesia dibantai Uruguay dengan skor 7-1 pada laga ujicoba di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (8/10) silam.
Gemuruh penonton begitu sahut-sahutan meneriakkan yel-yel Nurdin mundur.. Nurdin mundur.. Tapi apa yang terjadi, pria asal Makassar itu sama sekali tidak menggubris sorakan penonton, meski kala itu turut hadir Presiden SBY yang tampak kecewa dengan kekalahan memalukan tersebut.

Nurdin bahkan dengan tetap semangat menyuarakan tekad untuk terus membenahi timnas, agar grafik penampilan Markus Haris Maulana dkk bisa terus meningkat, hingga tampil memuaskan di ajang Piala AFF nanti sebagai sasaran utama. Ia pun berdalih, lawan yang dihadapi memang tidak sepadan, karena merupakan semi-finalis Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Singkat kata, dengan menggunakan ‘seribu jurus’, Nurdin berupaya mempertahankan tahtanya yang ia duduki selama kurun waktu hampir sepuluh tahun terakhir, meski dengan mendapat tekanan bertubi-tubi dari berbagai kalangan yang tidak lagi menginginkan kepemimpinannya, termasuk dari pemerintah.

Salah satunya dengan upaya menggelar Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang semula digadang-gadang sebagai ajang ‘pembantaian’ Nurdin Halid cs. Maklum saja karena pertemuan yang menguras dana miliaran rupiah uang rakyat tersebut dihadiri seluruhstakeholder sepakbola nasional.

Tapi apa yang terjadi, pria yang dalam beberapa kesempatan selalu menjuluki dirinya sebagai ‘pelaut ulung’ ini malah balik bertepuk dada. Aling-aling turun dari jabatan, Nurdin justru lancarkan serangan balik kepada pemerintah dengan menuding bahwa keterpurukan prestasi sepakbola nasional akibat buruknya fasilitas lapangan yang ada di tanah air, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan pesepakbola berkualitas.

Manuver Nurdin Halid tidak cukup sampai di situ. Dalam kesempatan bertemu dengan Komisi X DPR RI, Selasa (5/10) lalu, pihaknya mengajukan proposal dana yang cukup fantastis sebesar Rp1,5 triliun. 

Dari total anggaran tersebut, Rp50 miliar digunakan membiayai operasional persiapan timnas U-23. Hal ini dilakukan merujuk pada rekomendasi KSN yang menyebutkan pemerintah harus menyediakan anggaran untuk mendukung prestasi sepakbola nasional.

Melihat realita yang terjadi, jelas posisi tawar seorang Nurdin untuk tetap menduduki jabatannya tetap kuat. Terlebih karena hanya sebagian kecil dari pelaku sepakbola nasional dalam hal ini klub, yang merupakan pemilik hak suara dalam kongres PSSI, yang berani menyuarakan perubahan.

Ini sangat wajar, karena pengurus klub-klub tadi memang selama ini tidak jujur terhadap kinerja yang dilakukan dengan selalu meminta ‘bantuan’ kepada PSSI. Terutama dalam hal memperoleh kemenangan di hadapan publik sendiri, agar tidak sampai dipermalukan.

Pasalnya, karena mereka sudah menghambur-hamburkan dana APBD dengan melakukan pembelian pemain yang tidak jelas asal usulnya. Terutama untuk pemain asing yang justru menyedot dana rakyat paling besar.

“Maka dari itu, kunci untuk melakukan perubahan di PSSI cuma ada satu, yakni kejujuran semua pihak tidak terkecuali. Semua klub maupun pengurus PSSI wajib jujur, sehingga tidak lagi mengulangi kesalahan yang selama ini mereka telah lakukan,” sungut salah seorang wartawan senior dari koran tertua di tanah air, dalam perbincangan dengan GOAL.com beberapa hari lalu.

“Mestinya semua bisa menjalani sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing, sehingga tidak ada lagi 'permintaan' yang aneh-aneh kepada PSSI dan sebaliknya, yang membuat posisi tawar bagi klub lemah. Dengan begitu, sulit bagi klub untuk menuntut apa pun, sehingga dipaksa menerima apa adanya.”

Apa yang dikatakan wartawan olahraga senior tadi memang benar. Sebab, siapa pun nantinya yang tampil menggantikan posisi Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI, jika pola yang dilakukan masih sama, bisa dijamin prestasi sepakbola nasional sulit untuk bangkit dari keterpurukan dan tetap akan jalan di tempat.         

Apalagi sekiranya rumor yang santer beredar di kalangan wartawan bahwa juara kompetisi di tanah air itu dibagi-bagi alias dijatah, tergantung dengan negosiasi antara klub yang ingin juara dengan PSSI, benar adanya.  

Hal ini merujuk pada realita yang terjadi, juara musim ini besoknya degradasi. Maklum, kejadian seperti ini hanya terjadi di Indonesia dan tidak hanya dialami satu klub. Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, Persik Kediri, adalah klub-klub yang pernah mengalami kejadian seperti itu.

Akankah kejujuran bisa dihadirkan di pentas sepakbola nasional seiring dengan keinginan melakukan perubahan? Bukan pekerjaan mudah memang. Apalagi dengan masuknya ranah politik di sepakbola seiring dengan berubahnya kebijakan politik di tanah air, terutama dalam mekanisme pemilihan kepala daerah. 

Tapi kalau tidak sekarang, lalu kapan akan berubah? Semua tergantung kesadaran para pelaku sepakbola nasional. Bagaimana pun, merekalah yang menjadi kunci terjadinya perubahan demi meluruskan kinerja PSSI. Sebab, untuk menunggu perubahan itu datang dari otoritas sepakbola nasional, bisa dipastikan sangat mustahil bisa terjadi.

Seperti kata Yesayas Oktavianus, wartawan senior dari harian terkemuka di tanah air, dalam diskusi nasional bertajuk "Sepakbola Indonesia: Reformasi atau Tertinggal", beberapa hari lalu di Jakarta, PSSI bisa menjadi no body selama tidak mendapat dukungan, tapi sebaliknya akan menjadi somebody apabila terus mendapat dukungan dari klub selakustakeholder sepakbola nasional.

Source: goal.com    

Kim Pulang Dengan Kondisi Cedera

Dengan kondisi cedera engkel kaki kanan, Kim Jeffrey Kurniawan berangkat menuju tanah kelahiran nya di Jerman, Selasa (12/10) dari Malang. Untuk berobat ke Jerman Kim kebingungan karena sampai sekarang belum teken kontak dengan Persema Malang. Karena masalah kewarganegaraan atau naturalisasi yang sedang dibahas oleh otoritas PSSI.

Di saat-saat genting ternyata Kim mendapatkan dana senilai 15 juta dari pantia Charity Games Garuda. Dana itu diberikan untuk pembelian tiket pulang ke Jerman. Kim juga sudah mendatangi sejumlah dokter di Malang. Selain itu juga memakai jasa alternatif agar cederanya segera sembuh. 
“Daripada cedera saya semakin memburuk, lebih baik saya pulang dan berobat ke Jerman,” ungkap Kim kepadaGOAL.com Indonesia

Menurutnya dengan berobat ke Jerman dan menjalani operasi disana dia yakin dalam dua sampai tiga minggu cederanya akan segera sembuh. Dengan demikian akan bisa kembali ke Indonesia dan berkarir sepakbola. 

“Doakan operasi nanti lancar dan saya berharap segera bisa jadi warganegara Indonesia agar bisa bermain di kompetisi Indonesia” kata Kim. 


Source: goal.com

Selasa, 12 Oktober 2010

Indonesia Tundukkan Maladewa

Setelah diluluhlantakkan Uruguay 7-1 pada pertandingan persahabatan akhir pekan kemarin, timnas senior mampu bangkit dan memetik kemenangan 3-0 atas Maladewa di Stadion Siliwangi, Banudng, Selasa [12/10].

Berbeda dari pertandingan sebelumnya, timnas senior tidak mendapat tekanan berarti dari tim tamu. Kiper Markus Haris Maulana yang bekerja keras membendung tendangan pemain Uruguay, kali ini terlihat lebih santai.

Pada pertandingan ini, Indonesia menguasai permainan. Hanya saja, penyelesaian akhir yang buruk dan tergesa-gesa membuat Indonesia hanya mampu melesakkan satu gol di babak pertama.

Bertanding di bawah sengatan terik matahari, kedua tim mengawali laga dengan lamban. Maladewa mencoba untuk menjebol gawang timnas senior lebih dulu. Upaya itu dapat pada menit ke-16, ketika Ashfaq Ali melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti. Namun Markus bisa mementahkan peluang tersebut.

Di lain sisi, kreasi permainan timnas senior tidak terlihat bagus. Koordinasi antarlini tak berjalan dengan baik. Akibatnya, Maladewa tidak terlalu mendapat tekanan berarti.

Pada menit ke-31, timnas senior akhirnya berhasil memecah kebuntuan melalui Oktovianus Maniani. Pemain Sriwijaya FC yang diturunkan sebagai starter di laga kali ini menyambut umpan Boaz Solossa dari sektor kanan pertahanan Maladewa.

Oktovianus yang berada di sektor kiri menerima umpan itu dengan baik. Bola tendangan pelan Oktovianus sempat mengenai mistar kanan gawang Maladewa sebelum akhirnya bersarang di dalam jala Mohamed Imran.

Unggul satu gol membuat timnas senior menjadi lebih percaya diri untuk memperbesar keunggulan. Namun hingga babak pertama usai, skor 1-0 tetap bertahan.

Di babak kedua, timnas senior mencoba bermain lebih agresif. Berbagai variasi serangan coba dikembangkan untuk membongkar pertahanan Maladewa. Namun seperti halnya di babak pertama, penyelesaian akhir yang terburu-buru tidak membuat timnas senior menambah gol.

Pada menit ke-60, Bambang Pamungkas mendapat peluang untuk memperbesar keunggulan timnas senior. Namun tendangannya masih menyamping di sisi kiri gawang Maladewa.

Pelatih Alfred Riedl selanjutnya memasukkan Yongki Aribowo, dan menarik Bambang. Permainan Indonesia sedikit mengalami peningkatan. Hasilnya, timnas senior memperbesar keunggulan pada menit ke-74.

Berawal dari penetrasi Firman Utina dari sektor tengah ke jantung pertahanan Maladewa. Firman memberikan umpan kepada Yongki. Sambil memutar badannya, Yongki melepaskan tendangan ke arah gawang. Mohamed Imran gagal menangkap bola dengan baik, sehingga si kulit bundar bersarang di jalanya.

Unggul dua gol membuat timnas senior terus meningkatkan serangan ke pertahanan Maladewa. Hanya saja, penyelesaian yang buruk dan terkesan egois membuat peluang yang diperoleh menjadi terbuang percuma.

Menjelang pertandingan berakhir, timnas senior berhasil memperbesar keunggulannya melalui Toni Sucipto. Berawal dari umpan jauh Yongki di sisi kanan pertahanan Maladewa, bola lambung disambut Toni dengan tendangan voli yang menghujam gawang Maladewa. Skor 3-0 ini bertahan hingga pertandingan usai.

Source: goal.com

CATATAN Nasional: Stamina Pemain Timnas Tidak Memadai, Lagu Lama PSSI

Hasil miris kembali ditorehkan skuad timnas senior Indonesia saat dibantai Uruguay 7-1, pada laga ujicoba internasional di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (8/10) malam.

Sekilas, penampilan skuad tim besutan pelatih Alfred Riedl yang sedang dipersiapkan tampil di ajang AFF Cup 2010, pada awal uji tanding tersebut cukup menjanjikan. Terlebih setelah striker Boaz Solossa mampu mencetak gol dan membawa Indonesia unggul 1-0 lebih dahulu.  

Hanya saja, penampilan trengginas para pemain nasional tidak berlangsung lama, hingga akhirnya Luiz Suarez dkk mampu menyarangkan tujuh gol, setelah terus mengurung lini pertahanan Indonesia yang mendapat dukungan penuh dari puluhan ribu penonton yang memadati stadion.

Penyebabnya, stamina para pemain ‘Merah Putih’ cepatdrop dan kehabisan tenaga. Padahal dari segi skill dan teknik permainan, perbedaannya tidak begitu jauh dengan pemain Uruguay yang merupakan semi-finalis Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

“Harus diakui, kami memang kalah segala-galanya dari Uruguay. Tapi sebetulnya, karena kami terlalu cepat melakoni ujicoba. Padahal kami baru mulai kumpul lagi. Belum lagi, karena ditangani pelatih baru yang tentunya kami masih harus beradaptasi dengan gaya kepelatihannya,” ungkap kapten timnas Bambang Pamungkas sesaat usai timnya dibantai Uruguay.

Pernyataan bomber Persija Jakarta ini memang ada benarnya. Jika saja memiliki stamina yang cukup, bisa jadi mereka mampu mengimbangi Uruguay. Atau, kalau pun kalah tidak akan sampai kebobolan sampai tujuh gol yang tentunya sangat memalukan. Apalagi terjadi di hadapan publik sendiri yang juga disaksikan kepala negara, Presiden SBY.

Tapi sekiranya kita bisa melihat lebih jauh, kendala stamina yang dialami para pemain nasional ini bukan hal baru. Bahkan sudah menjadi ‘lagu lama’ yang membuat prestasi sepakbola nasional terus terjun bebas, sehingga berada di titik nadir paling rendah dan cukup mengkhawatirkan. 

Pertanyaannya adalah? Kenapa PSSI yang merupakan pemegang otoritas sepakbola nasional di tanah air tidak berupaya memperbaiki kelemahan mendasar ini? Padahal dalam beberapa hal mereka mampu melakukannya, seperti pembibitan pemain yang tengah dilakukan di Uruguay melalui tim S.A.D Indonesia, yang tentunya menelan biaya tidak sedikit.

Mengapa juga standarisasi fisik dan VO2 max setiap pemain sepakbola di tanah air tidak diberlakukan terhadap semua kontestan kompetisi yang digelar? Tentunya dengan menyesuaikan level kompetisi yang diikuti klub tersebut. 

Dengan demikian, ada keseragaman stamina para pemain nasional yang tentunya sangat berguna saat mereka terpilih membela timnas, karena juru racik yang menukangi timnas tidak lagi dipusingkan dengan masalah stamina pemain.
 
Kenyataan ini berimbas pada mencuatnya ketidakpercayaan kepada PSSI, sehingga muncul desakan agar Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI mundur dari jabatannya. Sebab, pria asal Makassar ini dinilai telah gagal memimpin roda organisasi olahraga paling populer di tanah air dengan baik dan benar.

Terlebih banyaknya kasus yang muncul dan tidak bisa diselesaikan dengan baik. Belum lagi penerapan aturan yang terkadang dilanggar sendiri para pengurus PSSI yang bertameng di balik hak prerogatif seorang ketua umum, yang kerap membuat blunder dalam mengeluarkan putusan.
Source: goal.com